Senin, 13 Desember 2010

KAKEK TUA DAN DUA KARUNG KERUPUK

Negara ku ini adalah negara terhebat, negara yang jika melakukan kebaikan selau ingin diketahui oleh orang lain. Keikhlasan dan keinginan untuk membantu bukanlah tujuan utama bagi mereka pemuka yang memiliki kekayaan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dan hebatnya lagi terkadang segelintir orang-orang malu untuk melakukan dan memulai suatu kebaikan. Itu lah kehebatan manusia-manusia di bumi pertiwi ku ini.
Siang itu matahari benar-benar mengelingsitkan kulit, aku berjalan menuju halte bus yang terletak 100 M tak jauh dari kampus ku untuk menunggu bus no 14 B tujuan Semarang kota-Ungaran-Salatiga. Setelah menunggu 5 menitan akhirnya bus bewarna biru tua itu datang dengan teriakan khas sang kened “ayo ayo semarang kota-ungaran-salatiga” teriak sang kened.
Karena bus yang ku tumpangi ini hanyalah bus ekonomi jadi wajar jikalau penumpang bejubel penuh sesak dan berbagai macam latar belakang ekonomi terdapat dalam satu bus ini. Ku memilih kursi panjang yang terdapat bagian belakang, agar ku bisa melonjorkan otot-otot kaki ku yang sejak pagi tadi tegang mondar mandir lantai dasar-lantai tiga.
Ku tarik nafas panjang untuk sedikit membuat suasana hati rilex dengan keadaan yang membuat mata memandang disekitar ku saat itu benar-benar menjenuhkan. Para pengamen kelur-masuk bergantian mengapresiaskan talenta bermusik yang mereka miliki untuk mencari uang-uang recehan yang akan mereka kumpulkan untuk sesuap nasi agar bisa menyambung hidup mereka. Tapi ternyata itu semua membuat ku semakin jenuh untuk berada lebih lama dalam bus 14 B ini. Ku temukan kembali para orang-orang berdasi dengan kemeja berkerah,dua kancing baju bagian atas terbuka dan dasi yang telah dilonggarkan menenteng-nenteng handphone mahal mereka, tidak lah tau apa motivasi utama mereka apakah mereka sedang melakukan transaksi bisnis, atau urusan kantor mereka atau hanya untuk memaparkan secara tidak langsung kepada orang-orang bahwasannya ini lah handphone terbaru untuk saat ini, dengan fiture-fiture tercanggih dan terlangkap yang memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan berbagai kalangan diluar sana. Tapi apakah orang yang sejak tadi berada disampingnya mengetahui handphone tercanggih seperti apa yang berada di tangannya. Tanpa rasa pamrih sedikitpun orang tersebut tak mempersilakan kakaek tua yang berumur sekitar 60 tahunan tersebut dengan kulit yang telah mengeriput dan kepala sudah terpenuhi olah rambut putih.
“ Ungaran-ungaran, hayo yang turun di ungaran” teriak kened sembari menarik bayaran para penumpang, yang sudah seperti rentenir ketika menarik uang terhadap para korban-korbannya.
Tiba-tiba terjadi sedikit percek-cokan antara si tukang kerned dengan kakek tua.
“ lah sampean niki mau turun dimana?” sergah sang kerned
“ saya mau turun di ambarawa” jawab sang kakek lirih dengan mata sayu
“lah mbah-mbah niki jurusan ne ungaran-salatiga, kalo panjenengan mau ke ambarawa pakek nya bus no 12 A”
“ lah saya ga bisa baca mas, saya kira bus yang bewarna biru yah sama saja tujuannya ke ambarawa” jawab kakaek lagi
“ ah ya sudah bayar 4 ribu saja, dan entar turun di pertigaan lampu merah depan situ” kata kerned
“tapi mas saya cuman punya uang 2 ribu, dan saya kan juga salah bus mas, masak saya yo harus bayar segitu” pelan jawab kakek
“ yah gimana pun panjenengan tetep harus bayar, ya sudah bayar 2 ribu saja” sontak kerned yang mulai meredamkan amarahnya
Di kursi belakang itu aku hanya diam terpana melihat kejadian singkat antara sang kerned dengan kakek. Aku heran kenapa orang yang sejak tadi masih saja menenteng-nenteng handphone berdasi tersubut tak sedikit pun menoleh bahkan peduli. Kenyataan lain tentang negara ku ini kembali terjumpai, apakah semua orang acuh-tak acuh dengan kejadian disekitarnya.
Begitu juga aku kenapa sejak tadi aku hanya terdiam tanpa sepatah kata atau tindakan yang ku lakukan, kenapa aku hanya terdiam pana hanya melihat tanpa berkedip dengan apa yang terjadi saat itu. Aku malu untuk memulai, aku takut jikalau dianggap sebagai pahlawan kesiangan,apalagi aku masih bau kencur. Bertanya-tanya dalam hati, akan kah sama apa yang ku rasakan dengan yang dirasakan orang berdasi dan orang-orang yang berada dalam bus siang itu.
Tanpa mengindahkan rasa malu itu, ku dekati sang kakek, tanpa ingin menyinggung atau menjadi pahlawan kesiangan. Ku berbincang-bincang menayakan sebenarnya hendak kemana sang kakek. Tanpa sungkan kakek menjawab, “ nikie mbak saya mau ke pasar ambarawa, saya bade jual kerupuk telo”,
Aku tersontak haru mendengar pernyataan sang kakek itu, sejaka awal sang kakek menaiki bus dengan dua karung sak dijinjing menggunakan bambu panjang yang telah dibelah menjadi dua bagian dan dengan seutas tali goni ntuk mengikat karung agar bisa menyangkut dibambu itu.
“ ayo mbah kita turun saja, entar saya yang antar embah sampai ambarawa” ajak ku
“ ngapunten mbak, tapi saya sudah ga punya uang lagi” jawab lembut kakek
“ njeh mbah, saya yang urus, insyaallah entar embah sampai di ambarawa” jawab ku untuk menenangkan kakek
Tak lama kemudian datanglah bus 12 A tujuan Ambarawa tersubut, ku naiki bus bersama sang kakek, dan ku sambangi kerned untuk membayar ongkos kakek dan agar di turunkan di ambarawa. Memang aku tak mengantar sang kakek hingga tempat tujuannya, tapi cukuplah bagiku untuk membantu kakek. Tiba-tiba sang kakek terbata-bata berjalan setelah meletakkan dua karung kerupuk singgkong yang belum siap untuk dimakan dan harus melalu proses penggorengan terlebih dahuli hingga kerupuk tersebut dapat untuk di konsumsi.
Dengan sigap kakek membungkuskan sepelastik kerupuk tersebut untuk ku, kemudian kakek menarik tangan ku dan dengan ketulusannya yang benar-benar terpancar dari raut wajah dia mencium tangan ku utuk berterimakasih. Disitu kurasakan betapa ketulusan seseorang yang berterimakasih atas apa yang sepele bagi kita, tapi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.
Bangsa ku janganlah kau turunkan kepada kebiasaan yang terpelihara untuk mengutamakan keacuhan terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar